umtegal.ac.id – Universitas Muhammadiyah Tegal bekerja sama dengan Universitas Negeri Semarang telah melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) Program Kosabangsa Tahun 2025 secara daring pada 21 November 2025 yang diselenggarakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Kegiatan ini merupakan bentuk penjaminan mutu pelaksanaan program yang melibatkan perguruan tinggi di seluruh Indonesia dalam upaya pemberdayaan masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Salah satu aspek unik dari monev Program Kosabangsa adalah keharusan menghadirkan mitra sasaran dan mitra pemerintah untuk memberikan konfirmasi langsung atas pelaksanaan kegiatan. Pendekatan ini memastikan akuntabilitas program dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan testimoni dampak program secara langsung kepada penilai.
Keberadaan mahasiswa dalam forum monev juga menjadi indikator penting pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi, khususnya IKU 2 tentang mahasiswa berkegiatan di luar kampus.
Universitas Muhammadiyah Tegal bekerjasama dengan Universitas Negeri Semarang melaksanakan program Kosabangsa 2025 di Desa Mendala, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Program ini menjadi contoh konkret bagaimana perguruan tinggi menghadirkan solusi berbasis riset untuk permasalahan riil masyarakat.
Desa Mendala menghadapi tantangan ganda: bencana tanah bergerak yang merusak lahan pertanian dan angka stunting yang meningkat dalam tiga tahun terakhir, dari 21 balita pada 2023 menjadi 69 balita pada 2025. Merespons kondisi tersebut, tim menghadirkan dua inovasi hasil riset kampus: pembuatan inulin tergelatinasi dari umbi gembili dan fermentasi bawang hitam sebagai prebiotik alami. Selama empat bulan pelaksanaan dengan anggaran Rp 211,2 juta, program berhasil meningkatkan kapasitas 25 kader posyandu dan 18 anggota kelompok wanita tani.
Monitoring dan evaluasi Program Kosabangsa 2025 bukan sekadar ritual administratif, melainkan momentum refleksi bersama tentang peran strategis perguruan tinggi dalam pembangunan. Dengan melibatkan lebih dari seratus tim dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia, program ini membuktikan bahwa hilirisasi riset kampus dapat menjadi solusi nyata bagi permasalahan masyarakat.
Kehadiran mitra sasaran dan mitra pemerintah dalam forum monev menjadi pengingat bahwa keberhasilan program bukan hanya diukur dari publikasi atau luaran akademik, tetapi dari seberapa jauh program mampu mengubah kehidupan masyarakat dan memperkuat kemandirian desa.





